Malu, Sifat Yang Bisa Membunuh Sombong.

Malu...
Memang kata ini sudah lama tertulis di kamus otak manusia. Tapi, apakah semua manusia sudah menyadari apa makna tersembunyi dalam kata "malu" tersebut?


Percaya atau tidak, kata malu sangat mujarab untuk menghindari sifat sombong. Di zaman global seperti saat ini, sifat sombong dan angkuh sudah menjadi salah satu sifat alamiah manusia, selain rasa marah dan lapar tentunya. Berdasarkan yang penulis amati, seorang "bani adam" memulai rasa sombong ketika akal dan pikirannya sudah dipenuhi oleh hal-hal yang bersifat duniawi. 


Kelebihan akan keadaan ekonomi, status sosial,  rupa dan raga, harta dan fasilitas, jabatan, itu semua yang mendorong embrio rasa sombong mulai mengendap dalam diri manusia. 


Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa semua manusia ingin memperoleh hal-hal tersebut. Tapi, inilah yang sangat disayangkan. Ketika manusia sudah berhasil mencapai semua itu, embrio sombong itu tumbuh menjadi besar, meskipun ada sebagian besar manusia yang tidak sombong karenanya.


Disinilah berperan rasa malu tersebut. Gunakanlah rasa malu untuk meredam kesombongan.
Rasa sombong biasanya tumbuh ketika manusia merasa semua kelebihan yang mereka dapatkan adalah hasil dari diri mereka sepenuhnya.




Malu lah. Semua yang kita sombongkan itu tidak milik kita sepenuhnya. Semua kelebihan kita itu datang dari Sang Maha Pemberi.


Bagaimana bisa sombong jika kita merasa kelebihan yang kita dapatkan merupakan pemberian. Sudah sepantasnya kita malu dengan semua pemberian tersebut, karena itu semua tidak milik kita.


Semoga setelah membaca tulisan ini, penulis berharap para sobat bisa lebih baik ke depannya. Di akhir cerita, penulis ingin mengutip satu firman-NYA, "Allah benci pada manusia yang berjalan dengan angkuh(sombong) di atas dunia."

Bagaimana dengan SDM????

Sepertinya para komposer lagu yang ingin menciptakan syair yang mengandung kekaguman tentang negara Indonesia harus memikirkan niatnya lebih jauh lagi. Atau lebih tepatnya mereka harus mengurungkan niatnya. Indonesia tidak lagi seperti dulu. Tidak lagi. Apa yang menyebabkan Indonesia ini berubah. Hanya satu kemungkinan jawaban yang ada. Yaitu, sudah berkurangnya loyalitas warga negara terhadap negaranya itu.

            Salah satu bukti konkret dari jawaban di atas ialah keluarnya sindiran dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida S Alisjahbana. Beliau menegaskan , bahwa birokrasi dan sumber daya manusia di negeri ini perlu ditingkatkan untuk modal peningkatan daya saing. Tambah Armida, laju pembangunan ekonomi berjalan lamban antara lain karena kinerja SDM dan birokrasi yang tidak mendukung. Tidak berkualitas. Sindiran birokrasi dan SDM ini jelas tertuju pada PNS.

            Memutuskan memilih menjadi PNS jelas harus menjadi abdi masyarakat, bangsa, dan negara. Dan melayani nerupakan harga mati menjadi seorang abdi. Bisa dilihat dari pegawai-pegawai yang bekerja di bidang jasa, seperti perhotelan, maskapai penerbangan, dan termasuk pegawai-pegawai biro di setiap universitas.

            Disinilah letak loyalitas yang sudah berkurang itu. Tak ada lagi kesetiaan menjadi abdi negara bagi PNS. Bagaimana bisa dibilang setia, jika pegawai kelurahan tak siap melayani warga yang ingin memperpanjang KTP dan bahkan cenderung mempersulit. Sehingga rasa saling menghargai tidak muncul di antara mereka. Bagaimana bisa dibilang setia, jika pada jam kerja para pegawai “ngeluyur” main ke pusat kota. Sehingga menimbulkan citra buruk di mata masyarakat. Bagaimana bisa dibilang bersifat loyal, jika ketika mahasiswa datang dengan suatu urusan ke biro tapi malah ditanggapi dengan hardikan (pengalaman). Sehingga tidak tercipta sinergis yang harmonis diantara penikmat jasa dan pemberi jasa.

            Kasarnya, PNS tak bisa lain menjadi pelayan. Melayani setiap warga yang memerlukan jasa mereka. Untuk diketahui saja, pemerintah Indonesia bisa menaikkan gaji, bonus, dan renumerisasi bagi PNS karena dana tersebut diperoleh dari ketaatan warga membayar pajak.


           Namun, itu semua kembali lagi pada SDM-nya itu sendiri. Juga masih banyak kita lihat para pegawai negeri yang berkinerja baik. Jika tidak, pasti seluruh instansi perusahaan akan berjalan kacau. seperti di kantor kelurahan ataupun di kantor-kantor biro di universitas. 

            Untuk itu, di era yang penuh dengan persaingan usaha ini, sikap melayani merupakan suatu kunci sukses yang melegenda yang bisa membuat berhasil. Tanpa sikap melayani yang baik dan loyal, jelas bangsa dan negara ini akan tertinggal. Untuk meningkatkannya, tak apa membuat sistem reward and punishment yang harus diterapkan secara serius dan diberlakukan kepada pemimpin paling tinggi sampai pegawai paling rendah, sehingga tercapai birokrasi dan SDM yang siap melayani. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi??(rangsikumbang/maret2011)


sumber referensi : Kompas.
            

Geraman Sang Dosen Pada Mahasiswa: "Hari Baiak Babuang, Batunggu Hari Buruak"

Judul di atas tercipta ketika penulis berbincang dengan seorang dosen di perjalanan pulang kuliah. Sang dosen hanya geram melihat tingkah laku mahasiswa di jaman global ini. Beliau berkata, tugas yang diberikan dari seminggu yang lalu baru dikerjakan 5 menit sebelum diserahkan. Parahnya lagi, ada yang rela meninggalkan satu mata kuliah demi mengerjakan satu tugas mata kuliah lain. lalu, beliau bergumam, "ado hari baiak babuang se, batungguan hari buruak tibo".

            Disitulah terpikir oleh penulis bahwa manusia diharuskan merencanakan secara sistematis tahap-tahap yang harus dilakukan sebelum mengeksekusi suatu kegiatan. Sistematis disini berarti memperhatikan langkah dari 1-100, urut  dari A-Z, dengan pertimbangan yang matang.

            Nah, disinilah keteledoran sering terjadi, dalam kasus ini terjadi pada mahasiswa yang diberi tugas kuliah. Tak jarang kita melihat mahasiswa-mahasiswa sering terlihat panik dan sibuk di saat hari-hari pengumpulan tugas. Kasusnya, mahasiswa diberikan tugas dan tugas tersebut dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu, misalnya seminggu.



            Disinilah, mungkin, sumber kegeraman dosen saya itu. Banyak di antara mereka (mahasiswa) yang suka menunda-nunda pengerjaan tugas tersebut, sehingga pada saat tempo waktu jatuh, mereka kerepotan akan tugas itu. Padahal di hari-hari sebelumnya waktu luang terbuang dengan sia-sia.



            Jika saja mereka bisa mengatur sesuatu dengan sistematis, tugas tersebut bisa selesai, tepat waktu atau lebih cepat dari yang telah ditentukan. Manfaat lainnya, tugas yang dikerjakan tersebut bisa dimengerti karena dalam penyelesaiannya tidak terburu-buru waktu.

            Dilain kata, mahasiswa harus paham dengan manajemen waktu dan manajemen diri, sehingga sistematis dalam melakukan sesuatu bisa dilakukan. Sesuai kasus di atas, jika sudah bisa menerapkan manajemen diri dan waktu dalam kehidupan, penundaan tugas yang berakibat pada kepanikan bisa dihindarkan. Semua hari yang dijalani bisa bermanfaat dan "Hari Baiak Babuang, Batunggu Hari Buruak"  bisa dilenyapkan.(rangsikumbang/maret2011)   

Bayangan dan Kaca...

just another poetry that i want to share....


Dulu.....
Kaca itu kuat...
Kuat..
Untuk menahan segala bayangan yang terpantul ke dalam dirinya...
Bayangan indah pembuat bahagia
Atau...
Bayangan pahit si hati tersakiti..
            Tapi..
            Yang kuat itu tidak abadi..
Kaca itu retak...
Melihat bayangan pahit yang terlalu pahit
Namun..
Kaca itu tegar dalam keretakannya
            Tapi..
            Yang tegar itu tidak abadi..
Yang retak itu hilang...


Berganti oleh kepingan yang berserakan..
Karena bayangan yang hinggap..
Selalu pahit terpahitkan..
            Dan...
            Aku tak ingin...
            Sang kaca abadi dalam kepingannya..
            Seperti aku...
(rangsikumbang/maret2011)

Tak Sekuat Langit Malam...

Jangan lah kau mencoba cinta
Bila kau tak sekuat langit malam...


Yang sanggup menahan...
Siletan cahaya rembulan tak purnama
       Janganlah kau mencoba cinta
       Jika tak tahan....
       Derita mencinta...
       Derita tak terbalas...
       Atau derita ditusuki...
Itu sebab aku merenung
Dilema dua pilihan
Pergi mencinta atau diam memendam...
Karena aku...
Tak sekuat langit malam... 
(rangsikumbang/maret2011)

Mulut Mereka Bernilai Jutaan Dolar!!




         Diawali dari adanya pengunjung. Pengunjung berubah status menjadi pembeli. Pembeli datang berulang-ulang sehingga menjadi pelanggan. Inilah yang diinginkan oleh suatu perusahaan. Mengapa? Seorang manager marketing menganggap pelanggan adalah satu aset bagi perusahaan. Bukan aset biasa, tetapi aset terpenting dalam nyawa perusahaan. Pelanggan merupakan aset yang bisa memberikan profit berkelanjutan bagi kehidupan suatu perusahaan. Oleh karena itu, pemahaman terhadap psikologi konsumen sangat berarti untuk mempertahankan dan menambah pelanggan. Bukan hanya bagi jajaran manajer atas saja, tapi juga bagi seluruh karyawan pemahaman ini harus bisa dimengerti.

            Layanan terhadap pelanggan sangatlah diperlukan. Tetapi, adakalanya perusahaan papan atas sering melakukan kesalahan. Maka, disinilah diperlukan pemulihan kepuasan pelanggan (customer service recovery). Ditambah dengan pemahaman terhadap psikologi konsumen, profit perusahaan yang melimpah akan segera menjadi kenyataan.

            Apa yang dimaksud dengan pemulihan kepuasan pelanggan? Pemulihan kepuasan pelanggan merupakan cara membuat seorang pelanggan tersenyum bahagia setelah mendapat kekecewaan dari layanan perusahaan atau kecewa terhadap kualitas produk perusahaan tersebut.

            Cara membuat mereka tersenyum itu pun tidak lagi dengan hanya sekedar mengucapkan maaf atau berkata “Saya sangat menyesal atas kejadian ini.”
Para staf perusahaan harus bisa meminta maaf, bertanggung jawab atas ketidaknyamanan yang terjadi, dan menebusnya dengan sesuatu yang berharga di mata pelanggan tersebut sebagai kompensasi terhadap mereka. Oleh karena itu, karyawan jajaran depan yang biasanya langsung berhubungan dengan pelanggan, harus diberikan wewenang untuk bisa memulihkan kepuasan pelanggan secara langsung, tanpa harus memanggil manajer dulu (seperti yang terjadi umumnya).



            Sebagai contoh, seorang karyawan toko buku membuat kesalahan yang fatal kepada pelanggan. “Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,Pak. Sebagai gantinya kami akan memberikan dua buah kupon yang bisa bapak tukarkan dengan dua buah buku.”

Setelah itu anda pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan bapak itu. Ia akan merasa puas dan, yang paling penting, ia akan memberitakan pada teman, keluarga, dan kerabatnya tentang apa yang dialaminya di toko buku tersebut. Apalagi bila kejadian itu terjadi pada pelanggan wanita. Wanita tersebut akan bercerita pada 10 orang teman wanitanya. Dan teman wanitanya tersebut juga akan membicarakan topik ini pada arisan yang mereka adakan dan terus selanjutnya.

            Inilah yang dimaksud dengan pelanggan bisa memberikan profit yang berkelanjutan pada perusahaan. Kompensasi yang perusahaan berikan tadi sebagai penebus atas kesalahan yang terjdi, bisa menjadi iklan yang paling murah biayanya dan menjadi iklan berjalan. Berjalan lewat mulut ke mulut. Maka, tak salah jika kita sebut “Mulut Pelanggan Itu Bernilai Jutaan Dolar.”(rangsikumbang/maret2011)


Untuk lebih lengkapnya mengenai PsikologI Konsumen ini, silakan ditelusuri pendalamannya di buku JOHN TSCHOHL “Psikologi Konsumen-Menjaring Pelanggan Seumur Hidup”.



             

           

Jika Teknologi Dipadu Dengan Pendidikan = ?



Kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan merupakan suatu terobosan yang sangat bermanfaat. Bagaimana tidak, teknologi di dunia pendidikan tersebut bisa memberikan manfaat yang luas terhadap para pengguna pendidikan. Selain itu, hal ini juga bisa menjadi acuan indikator terhadap “komersil”-nya suatu lembaga pendidikan. Seperti, masuknya jaringan internet di kampus dan sekolahan. Hal ini tentu akan membuat “kedudukan” lembaga tersebut di mata masyarakat akan naik. Tak ayal, berbagai macam lembaga kependidikan sekarang berpacu-pacu untuk mendapatkan posisi teratas di mata masyarakat. Seperti adanya gelar RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional) pada sekolah-sekolah dan gelar “universitas bertaraf dunia ( world class university)” pada kampus-kampus.
Namun, tidak luput kemungkinan akan terjadi pro dan kontra sebagai dampak dari “balomba” tersebut. Contohnya saja bisa dilihat dari pemasangan jalur internet pada badan-badan pendidikan, dan yang paling populer akhir-akhir ini adalah adanya program ICT pada universitas.
Hal ini masih bersifat pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Program ICT ini pada awalnya ditujukan untuk mempermudah mahasiswa dalam menjalani proses perkuliahan, seperti adanya modul perkuliahan elektronik dan pengisian KRS secara online sehingga tidak menyulitkan mahasiswa dalam proses registerasi yang dahulunya menggunakan sistem pengisian lembar komputer (ABO).  
Bagaikan koin yang memiliki dua sisi, program ini juga mengundang kritik pedas berbau negatif di kalangan mahasiswa. Entah karena ICT yang terlalu “dipaksakan” atau sumber daya manusia yang belum memadai, program ini ( yang salah satu programnya dikenal dengan portal) sering menyulitkan mahasiswa. Hal ini bisa dilihat dari kesibukan mahasiswa saat memasuki musim semester baru.
Sulitnya proses pengisian KRS merupakan dampak dari belum siapnya program ini. Tak jarang kita  mendengar keluhan akan “ribet” nya proses registerasi dikarenakan portal. Biasanya banyak terjadi keterlambatan pendaftaran ulang disebabkan jaringan portal yang lemah atau tenaga SDM yang kurang memadai.
Disinilah para mahasiswa kelabakan menghadapi semester baru yang proses pendaftaran ulangnya memiliki batas waktu. jika portal memiliki sumber daya yang bagus, baik sumber daya manusia maupun sumber daya peralatan,  maka portal ini akan sangat menguntungkan bagi mahasiswa dan seluruh civitas akademika kampus dan secara tidak langsung akan mengangkat status dari kampus tersebut.
Namun, ada satu solusi lagi untuk memperbaiki “kelemahan” dari sistem ICT ini. Yaitu, dengan memulai pelaksanaannya secara bertahap. Sampai saat ini, penggunaan ICT ini dilakukan untuk semua pengoperasian sistem akademik. Dari pengelolaan nilai, pendaftaran ulang, pengisian KRS, pembuatan daftar absen, sampai informasi KHS. Jika penggunaan ICT ini dilakukan untuk informasi KRS saja, atau untuk melihat nilai saja, maka beban yang ditanggung oleh sistem ini akan berkurang dan bisa meningkatkan kinerjanya. Dan, jika sudah memiliki modal yang kuat, silakan saja seluruh sistem akademik di jadikan online melalui ICTini.
Kesimpulannya, kemajuan dalam berbagai hal memang sangat bagus jika dipadukan dengan tujuan yang baik, akan tetapi persiapan yang matang dan professional harus dipikirkan juga demi kenyamanan orang-orang yang bersangkutan terhadap kemajuan. ( rangsikumbang/maret2011)

Jangan sampai "vini, vidi, gedubraak!!!"

Musim wisuda sudah menyapa. Para mahasiswa yang lulus pun disibukkan dengan mempersiapkan syarat kelulusan yang bejibun banyaknya dan ditambah dengan persiapan acara gladiresik yang diadakan sebelum hari H.  Ada yang menanggapi dengan bahagia disertai senyum mengembang penuh bangga, namun tak sedikit pula yang menanggapinya dengan rasa sesal dan malu. Bangga karena bisa menamatkan studi-nya tepat waktu dengan nilai memuaskan. Sesal dan malu karena meratapi keadaan diri yang belum lulus dan umur yang semakin “tua”. Namun, itu tergantung pada diri masing-masing mahasiswa yang menjalaninya. Tapi, lulus kuliah ataupun tidak, sekarang tidak lagi menjadi persoalan yang genting, asal ke depannya bisa sukses.  Daripada  kuliah tidak lulus ditambah masa depan buram kelam. Ikutilah idiom seperti ini : “vini,vidi,vici” (saya datang, saya bermain, saya menang), dan jangan menjadi seperti ini : “vini, vidi, gedubraaak” (saya datang, saya bermain, namun akhirnya gedubraaak, dan gagal).


Hidden Love

sekedar coba untuk berpuitis.. silakan dinikmati

Puisi ini tercipta ketika saya dan teman-teman sesama kuliah sedang berkumpul di teras rumah. Berbincang mengenai sebab ke-jombloan masing2...Ditemani capuccino dan sebuah gitar.. wakakak.. check this out..


CINTA   TERPENDAM....

Di waktu langit hitam pekat...
Sejoli mata ini tak  jua terpejam....

Apa yang salah...apa yang janggal..
Jika logika tak bisa menjawab...
Mungkin hati yang dituju untuk menjawab...

Mungkin hati memikirkan jiwa yang lain...
Mungkin raga yang menginginkan tulang rusuknya...
Atau sejatinya diri ini dimabuk cinta....
Tapi sayang....

Cinta ini terpendam dan mungkin tak terbalas...
Atau diri ini sengaja tidak meminta cinta untuk membalas...
Biarlah terpendam ..atau biar waktu yang menjawab.......
Dan aku tetap resah di cinta terpendam....
(rangsikumbang/maret2011)

KRITIK : "ID-Card negara Demokrasi"




            Mengapa sebuah taman yang hijau bisa disebut sebagai paru-paru sebuah kota? Karena dengan adanya taman hijau, aliran udara di sebuah kota menjadi bersih dan menyehatkan bagi penduduknya. Oleh karena itu, tak salah pula kalau sebuah kritikan bisa disebut sebagai paru-parunya demokrasi. Mengapa? Karena dengan kritikan, seseorang bisa menjadi lebih baik. Dengan kritikan, sesuatu yang salah bisa dikoreksi hingga benar. Dengan adanya kritikan, semakin jelas bahwa negara tersebut bisa dibilang negara yang berdemokrasi. Semua orang bebas menyampaikan suaranya.
            Apalagi Negara Indonesia sudah terkenal sebagai negara yang berdaulat dan berdemokrasi di mata dunia. Ditambah dengan adanya UUD Tahun 1945 yang semakin mengokohkan bahwa Indonesia itu berdemokrasi. Demokrasi itu juga tampak dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan adanya kritikan tadi. Kritikan bawahan terhadap atasan. Kritikan mahasiswa terhadap masalah pendidikan. Kritikan warga negara terhadap pemimpin negaranya, dsb.
            Jika berbicara masalah kritik, berarti kita berbicara mengenai dilema. Di satu sisi, sebuah kritikan bisa memperbaiki mutu dari diri seseorang. Dengan kritikan, seseorang bisa mengetahui kelemahan dari diri sendiri dan bisa berusaha untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, kita mengenal idiom yang sangat familiar di negara kita ini : kritik itu membangun”. Tapi, di sisi lain, sebuah kritikan bisa menjadi bumerang tajam yang bisa berbalik menyerang pemiliknya.
            Menyampaikan kritik itu merupakan hal yang lumrah. Mengingat negara kita merupakan negara yang berdaulat. Apalagi setelah bebas dari masa 32 tahun Orde Baru. Insan PERS dan, terutama, masyarakat sudah bisa merasa bebas menyampaikan pendapatnya, tanpa takut terkekang oleh pemimpin.
            Namun, yang akhir-akhir ini terjadi, setelah keluarnya kata-kata “boikot” atas suatu media, yang disinyalir sering menjelek-jelekkan pemerintah, dari mulut seorang pejabat kabinet, rasa “bebas” itu bisa kembali dipertanyakan. Sudahkah bebas atau “sedikit bebas”.
            Memang benar, batasan antara “kritik” dengan “menjelek-jelekkan” hanya setipis kertas tisu. Paradigma tentang kritik di kepala masyarakat memang bersifat negatif. Bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, jika ada seseorang mengkritik seorang lain atas suatu hal, pasti kata-kata yang keluar terdengar jelek atau bahkan “menjelekkan”.
            Itu hal yang biasa. Namun, jangan sampai kritik itu mengakibatkan perpecahan. Merusak hubungan baik. Merusak kesatuan dan persatuan, apalagi sampai menimbulkan dendam.
            Disinilah berperan mental yang tangguh dan kepribadian yang berjiwa besar. Ada beberapa cara yang cukup ampuh dalam menghadapi suatu kritikan.  Pertama, hadapilah kritik itu dengan lapang dada. Anggap orang yang mengkritik itu masih mempunyai rasa sayang pada diri kita, sehingga rasa dendam itu tidak timbul di hati. Kedua, berusahalah merubah paradigma yang tercipta pada diri kita yang mampu mengundang kritikan tersebut. Dan jika berhasil, kita bisa disebut sebagai orang yang berjiwa besar dalam menghadapi masalah. Dan yang terakhir, tersenyumlah dalam menerima kritikan.

Karena, senyuman bisa membawa perasaan ke hal yang lebih positif.

Bertindaklah seperti ini.


            Pada akhirnya, kritik itu tak bisa lepas dari negara yang sudah dicap berdemokrasi. Apalagi negara kita yang memiliki suatu pasal yang menjamin kebebasan berpendapat. Bahkan, kritik itu bisa dibilang sebagai ID Card-nya negara demokrasi. Maka, tak ada cara lain, hadapilah kritik itu dan jadikan sebagai motivator. Biarpun terdengar pahit. Sebagai penutup, renungkan lah peribahasa tionghoa ini, “wen yu kong, wen guo xin. “Takut” menerima pujian, “bangga” menerima kritikan. (rangsikumbang/1maret2011)