Mengapa sebuah taman yang hijau bisa disebut sebagai paru-paru sebuah kota? Karena dengan adanya taman hijau, aliran udara di sebuah kota menjadi bersih dan menyehatkan bagi penduduknya. Oleh karena itu, tak salah pula kalau sebuah kritikan bisa disebut sebagai paru-parunya demokrasi. Mengapa? Karena dengan kritikan, seseorang bisa menjadi lebih baik. Dengan kritikan, sesuatu yang salah bisa dikoreksi hingga benar. Dengan adanya kritikan, semakin jelas bahwa negara tersebut bisa dibilang negara yang berdemokrasi. Semua orang bebas menyampaikan suaranya.
Apalagi Negara Indonesia sudah terkenal sebagai negara yang berdaulat dan berdemokrasi di mata dunia. Ditambah dengan adanya UUD Tahun 1945 yang semakin mengokohkan bahwa Indonesia itu berdemokrasi. Demokrasi itu juga tampak dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu dengan adanya kritikan tadi. Kritikan bawahan terhadap atasan. Kritikan mahasiswa terhadap masalah pendidikan. Kritikan warga negara terhadap pemimpin negaranya, dsb.
Jika berbicara masalah kritik, berarti kita berbicara mengenai dilema. Di satu sisi, sebuah kritikan bisa memperbaiki mutu dari diri seseorang. Dengan kritikan, seseorang bisa mengetahui kelemahan dari diri sendiri dan bisa berusaha untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, kita mengenal idiom yang sangat familiar di negara kita ini : “kritik itu membangun”. Tapi, di sisi lain, sebuah kritikan bisa menjadi bumerang tajam yang bisa berbalik menyerang pemiliknya.
Menyampaikan kritik itu merupakan hal yang lumrah. Mengingat negara kita merupakan negara yang berdaulat. Apalagi setelah bebas dari masa 32 tahun Orde Baru. Insan PERS dan, terutama, masyarakat sudah bisa merasa bebas menyampaikan pendapatnya, tanpa takut terkekang oleh pemimpin.
Namun, yang akhir-akhir ini terjadi, setelah keluarnya kata-kata “boikot” atas suatu media, yang disinyalir sering menjelek-jelekkan pemerintah, dari mulut seorang pejabat kabinet, rasa “bebas” itu bisa kembali dipertanyakan. Sudahkah bebas atau “sedikit bebas”.
Memang benar, batasan antara “kritik” dengan “menjelek-jelekkan” hanya setipis kertas tisu. Paradigma tentang kritik di kepala masyarakat memang bersifat negatif. Bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari, jika ada seseorang mengkritik seorang lain atas suatu hal, pasti kata-kata yang keluar terdengar jelek atau bahkan “menjelekkan”.
Itu hal yang biasa. Namun, jangan sampai kritik itu mengakibatkan perpecahan. Merusak hubungan baik. Merusak kesatuan dan persatuan, apalagi sampai menimbulkan dendam.
Disinilah berperan mental yang tangguh dan kepribadian yang berjiwa besar. Ada beberapa cara yang cukup ampuh dalam menghadapi suatu kritikan. Pertama, hadapilah kritik itu dengan lapang dada. Anggap orang yang mengkritik itu masih mempunyai rasa sayang pada diri kita, sehingga rasa dendam itu tidak timbul di hati. Kedua, berusahalah merubah paradigma yang tercipta pada diri kita yang mampu mengundang kritikan tersebut. Dan jika berhasil, kita bisa disebut sebagai orang yang berjiwa besar dalam menghadapi masalah. Dan yang terakhir, tersenyumlah dalam menerima kritikan.
Karena, senyuman bisa membawa perasaan ke hal yang lebih positif.
Karena, senyuman bisa membawa perasaan ke hal yang lebih positif.
Bertindaklah seperti ini.
Pada akhirnya, kritik itu tak bisa lepas dari negara yang sudah dicap berdemokrasi. Apalagi negara kita yang memiliki suatu pasal yang menjamin kebebasan berpendapat. Bahkan, kritik itu bisa dibilang sebagai ID Card-nya negara demokrasi. Maka, tak ada cara lain, hadapilah kritik itu dan jadikan sebagai motivator. Biarpun terdengar pahit. Sebagai penutup, renungkan lah peribahasa tionghoa ini, “wen yu kong, wen guo xin. “Takut” menerima pujian, “bangga” menerima kritikan. (rangsikumbang/1maret2011)



0 komentar:
Posting Komentar