Kemajuan teknologi dalam dunia pendidikan merupakan suatu terobosan yang sangat bermanfaat. Bagaimana tidak, teknologi di dunia pendidikan tersebut bisa memberikan manfaat yang luas terhadap para pengguna pendidikan. Selain itu, hal ini juga bisa menjadi acuan indikator terhadap “komersil”-nya suatu lembaga pendidikan. Seperti, masuknya jaringan internet di kampus dan sekolahan. Hal ini tentu akan membuat “kedudukan” lembaga tersebut di mata masyarakat akan naik. Tak ayal, berbagai macam lembaga kependidikan sekarang berpacu-pacu untuk mendapatkan posisi teratas di mata masyarakat. Seperti adanya gelar RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional) pada sekolah-sekolah dan gelar “universitas bertaraf dunia ( world class university)” pada kampus-kampus.
Namun, tidak luput kemungkinan akan terjadi pro dan kontra sebagai dampak dari “balomba” tersebut. Contohnya saja bisa dilihat dari pemasangan jalur internet pada badan-badan pendidikan, dan yang paling populer akhir-akhir ini adalah adanya program ICT pada universitas.
Hal ini masih bersifat pro dan kontra di kalangan mahasiswa. Program ICT ini pada awalnya ditujukan untuk mempermudah mahasiswa dalam menjalani proses perkuliahan, seperti adanya modul perkuliahan elektronik dan pengisian KRS secara online sehingga tidak menyulitkan mahasiswa dalam proses registerasi yang dahulunya menggunakan sistem pengisian lembar komputer (ABO).
Bagaikan koin yang memiliki dua sisi, program ini juga mengundang kritik pedas berbau negatif di kalangan mahasiswa. Entah karena ICT yang terlalu “dipaksakan” atau sumber daya manusia yang belum memadai, program ini ( yang salah satu programnya dikenal dengan portal) sering menyulitkan mahasiswa. Hal ini bisa dilihat dari kesibukan mahasiswa saat memasuki musim semester baru.
Sulitnya proses pengisian KRS merupakan dampak dari belum siapnya program ini. Tak jarang kita mendengar keluhan akan “ribet” nya proses registerasi dikarenakan portal. Biasanya banyak terjadi keterlambatan pendaftaran ulang disebabkan jaringan portal yang lemah atau tenaga SDM yang kurang memadai.
Disinilah para mahasiswa kelabakan menghadapi semester baru yang proses pendaftaran ulangnya memiliki batas waktu. jika portal memiliki sumber daya yang bagus, baik sumber daya manusia maupun sumber daya peralatan, maka portal ini akan sangat menguntungkan bagi mahasiswa dan seluruh civitas akademika kampus dan secara tidak langsung akan mengangkat status dari kampus tersebut.
Namun, ada satu solusi lagi untuk memperbaiki “kelemahan” dari sistem ICT ini. Yaitu, dengan memulai pelaksanaannya secara bertahap. Sampai saat ini, penggunaan ICT ini dilakukan untuk semua pengoperasian sistem akademik. Dari pengelolaan nilai, pendaftaran ulang, pengisian KRS, pembuatan daftar absen, sampai informasi KHS. Jika penggunaan ICT ini dilakukan untuk informasi KRS saja, atau untuk melihat nilai saja, maka beban yang ditanggung oleh sistem ini akan berkurang dan bisa meningkatkan kinerjanya. Dan, jika sudah memiliki modal yang kuat, silakan saja seluruh sistem akademik di jadikan online melalui ICTini.
Kesimpulannya, kemajuan dalam berbagai hal memang sangat bagus jika dipadukan dengan tujuan yang baik, akan tetapi persiapan yang matang dan professional harus dipikirkan juga demi kenyamanan orang-orang yang bersangkutan terhadap kemajuan. ( rangsikumbang/maret2011)

0 komentar:
Posting Komentar